Baby, I’m Sorry

Baby, I'm Sorry

Title : Baby, I’m Sorry

Author : Kim HyeNi (Sweet Marshmallow) | Putri

Leght : Ficlet

Rating : G

Genre : Romance

Cast : Choi Minho (SHINee) , Park Jiyeon (T-Ara)

Apa artinya sebuah tanggal karena aku mencintaimu setiap waktu

.

.

.

.

.

Derapan langkah kaki itu terdengar berat dan begitu keras dan kini tengah menyusuri lorong Universitas Sunkyungkwan dan membuat semua orang menoleh menuju asal sumber suara langkah tersebut dan melayangkan beragam tatapan. Sayangnya sang pembuat suasana berisik itu tidak terlalu perduli akan tatapan sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi yang ada di lorong tersebut.

Setelah mencapai ujung lorong, tepatnya pintu keluar dan alternatif menuju tempat parkir ia segera berjalan dengan cepat.

“Jiyeon!”

Sebuah suara berteriak menyerukkan namanya dari parkiran. Tepatnya dari depan sebuah mobil hitam yang terparkir di antara banyaknya mobil mahasiswa dan mahasiswi universitas tersebut terlihat seorang namja dengan pakaian santai khas mahasiswa tengah berlari ke arahnya.

Ia tidak membalas sahutan namja tersebut dan terus berjalan.

“Kau masih marah?” Tanya namja yang tadi berdiri di depan mobil hitam tersebut sambil berdiri dihadapannya – setidaknya Jiyeon harus ingat bahwa namja dihadapannya ini memiliki kemampuan atletik yang luar biasa sehingga bisa mengejarnya dengan cepat dari depan mobil tadi.

Jiyeon hanya menatapnya dengan tatapan kesal lalu berusaha berjalan lewat bagian samping. Namun apa yang bisa ia perbuat, namja yang masih berstatus sebagai namjachingu-nya itu malah menghalang-halanginya dan terus mengikuti kemanapun dia melangkah.

Argghh! Choi Minho, Serius!” Akhirnya Jiyeon benar-benar habis kesabaran dan berteriak langsung dihadapan namja tersebut.

Namja bernama Minho itu menunjukkan reaksi yang berada diluar ekspestasi Jiyeon. Ia malah tersenyum, “Akhirnya kau bicara. Kupikir tadi kau mendadak bisu.”

Rasanya jika ini adalah sebuah film pasti akan ada asap keluar dari kepalanya.

 

Satu.

 

Dua..

 

Tiga…

 

“KAU BENAR-BENAR BODOH, CHOI MINHO!”

Jiyeon rasanya ingin melempar namja tersebut ke Sungai Han lalu membiarkannya tenggelam. Oh! Sepertinya ia lupa bahwa Minho mampu berenang dengan baik. Namja itu bahkan sempat bercanda dan menggodanya ketika ia sedang marah.

Ia kemudian segera berjalan dengan cepat tanpa memerdulikkan Minho. Sayangnya Minho tak kalah cepat. Ia dengan cepat menahan tangan Jiyeon, “Yah, aku hanya bercanda.”

“Bercandamu tidak lucu, Choi Minho.” Jiyeon berusaha menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Aku kan hanya menghiburmu. Masa kau masih marah denganku, kemarin itu kan hal sepele,” Minho mengeluarkan tatapan paling menyedihkan yang pernah dikeluarkan dalam hidupnya.

Jiyeon menatap Minho dengan tajam kembali, “Sepele? Kau lupa tanggal jadian kita itu bukan hal sepele, Minho-ya!”

Minho menghela nafas pelan. Ia masih belum mengerti dimana kesalahan terbesarnya hingga Jiyeon bisa marah dengannya dalam jangka waktu hampir mendekati waktu satu minggu. Padahal ia hanya menjawab jujur ketika Jiyeon mendadak bertanya tanggal mereka mulai berpacaran ketika mereka tengah membeli Ice Cream di sebuah toko ice cream yang cukup terkenal di daerah Gangnam, ia menjawab bahwa ia lupa.

Jiyeon sendiri emosinya sudah naik ke ubun-ubun, ia benar-benar kesal dengan Minho. Ia bahkan bersumpah ia tak bisa mengungkapkan sekesal apa ia dengan namja itu dengan kata-kata.

“Tapi masa kau sampai marah denganku hingga satu minggu. Itu kan keterlaluan.”

“Itu artinya kau sudah melupakanku dan tidak mencintaiku!” Teriak Jiyeon yang dianggap Minho sebagai kalimat yang berlebihan. Jiyeon terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Kalau begitu, apa kau sudah ingat tanggal berapa?”

Minho mendadak lemas. Ia benar-benar lupa, lagipula ia memang selalu sulit menghapalkan tanggal. Ia bahkan tidak ingat tanggal ulang tahun teman-temannya, atau mungkin tanggal ulang tahun perkawinan kedua orangtuanya, atau tanggal ketika ia pertama kali mimisan. Oke, untuk poin terakhir cukup tidak penting.

“Apa artinya sebuah tanggal karena aku mencintaimu setiap waktu.”

Asap yang sudah mengebul dari kepala Jiyeon seakan lenyap digantikan pipi merah merona. Ayolah, ia masih cukup waras dan mencintai namja itu, jadi ketika namja itu mengungkapkan kata-kata ‘gombalan norak’-nya bagaimana bisa pipinya tidak bersemu merah?

Lagipula sangat jarang sekali Minho bisa beromantis-ria seperti ini, namjachingu-nya itu benar-benar hidup dengan penuh canda. Bahkan cara Minho menyatakan cinta kepada Jiyeon saja dengan cara yang benar-benar Jiyeon ingin lupakan. Namja itu memakai kostum semacam piyama berbentuk beruang, lengkap dengan topi yang menyambung dengan bajunya yang membuat sebuah telinga beruang di atas kepalanya lalu namja itu menuju rumahnya dimalam hari dan menari-nari dengan kostum aneh seperti itu dan membawa balon. Benar-benar gila.

Minho tersenyum melihat yeoja dihadapannya yang terlihat begitu malu-malu. Ia kemudian mengacak pelan rambut Jiyeon, “Kau tidak marah lagi ‘kan?”

Jiyeon terdiam.

“Kalau begitu kuanggap sebagai jawaban ‘iya’,” ujar Minho lalu menarik tangan Jiyeon menuju mobilnya, “Apa kau mau makan ice cream?”

Jiyeon hanya mengangguk pelan lalu mengikuti Minho berjalan menuju mobilnya.

“Lagipula jika kau marah denganku terus kau pasti akan rindu denganku dan muka mu akan cepat keriput karena terus-menerus cemburu melihatku dengan yeoja lain.” Ucap Minho jahil kepada yeojachingu-nya itu.

 

.

.

.

.

.

 

“APA KAU TIDAK BISA SEDIKIT ROMANTIS, CHOI MINHO?!”

THE END


					
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s