The Regret

The Regret1Title : The Regret

Author : KimHyeNi (Putri)

Leght : Oneshot

Rating : G

Genre : AU, Drama, Friendship

Cast : Kim NamJoo ( A Pink ), Lee Minhyuk ( BtoB ) , Yoon Bomi ( A Pink)

Support Cast : –

Note : Maaf kalau masih ada typo & FF-nya aneh-.-‘

 

Bahwa sebenarnya hidupmu itu…. Berharga.

Batu-batu yang dapat disebut kerikil yang berserakkan tanpa arah di jalanan sekitar sebuah pertokoan yang tersusun rapi, membentang jalanan disalah satu kawasan kota Seoul yang cukup ramai. Seorang yeoja dengan jaket kuning pucat bejalan menyusuri jalanan tersebut sambil sesekali menendankan batu-batu kecil tersebut, membuatnya berlompatan dan berpindah tempat layaknya atraksi sirkus di Rusia. Yeoja tersebut berjalan tanpa arah, untungnya ia tidak berpakaian lusuh maupun dengan wajah kusam yang bisa dikira orang adalah seseorang yang sedang mencari kerja dan lamarannya ditolak di berbagai tempat.

Yeoja itu adalah Kim NamJoo. Ia kini terus berjalan sampai pada akhirnya menemukan sebuah taman kecil yang tak jauh dari runtutan pertokoan tadi dan suasananya lebih tenang dibandingkan di daerah pertokoan tadi. Ia kemudian duduk disalah satu bangku taman yang berada disebelah lampu taman yang menerangi di kegelapan malam tersebut. Entah untuk apa ia duduk disitu, tak ada maksud dan taka da tujuan.

Ia menutup matanya sejenak dan menyandarkan tubuhnya pada bangku taman. Ia benar-benar merasa seperti orang stress saat ini. Ia merasa hidupnya sangat datar, namun begitu banyak pikiran yang seakan tersumbat dikepalanya. Ia sendiri tak mengerti sebenarnya apa saja yang ia pikirkan, namun rasanya setiap hari kepalanya itu penuh. Ia harus cukup bersyukur ia tidak terkena insomnia ataupun harus meminum obat penenang, setidaknya hidupnya belum sekacau itu.

Tenang saja, ia bukan berasal dari keluarga tidak mampu maupun anak yatim. Bahkan kini ia sedang berkuliah dalam jurusan Psikolog. Tolong jangan tanyakan mengapa ia memilih jurusan tersebut, ia sendiri bingung. Entahlah, mungkin ia memilihnya secara acak? Atau bahkan dengan metode paling simple yaitu cap cip cup? Entah. Ia juga bekerja di sebuah toko dan ia tinggal dengan kedua orangtuanya dan satu kakak laki-lakinya, Kim Soo Hyun. Untuk kehidupan kakak laki-lakinya mau tak mau ia  harus mengakui bahwa kehidupan kakak laki-lakinya itu benar-benar berbeda darinya – setidaknya begitu menurutnya serta dari cara orang-orang memandang dirinya dan kakaknya dan mengatakannya secara tidka langsung – BENAR BENAR BERBEDA.

Oke, kakak laki-lakinya itu sangat pintar. Bahkan menurutnya benar-benar pintar, kakak laki-lakinya kini sedang mengambil S2 sambil menjadi asisten dosen. Kakaknya itu bahkan memiliki rencana dan mimpi yang tersusun secara rapi dan teratur untuk masa depannya yang sudah hampir mencampai taraf matang. Ibaratnya makanan, perencanaan kakak laki-lakinya itu seperti sudah lengkap dengan berbagai bumbu yang sudah dimasukkan sesuai takaran yang pas dan sang koki yang handal untuk memasak makanan tersebut. Kakak laki-lakinya pun bahkan dapat dikatakan tampan, satu lagi nilai plus untuknya. Kakak laki-lakinya pun berbakat dalam banyak bidang, terutama akting. Seni peran. Ia sendiri sejujurnya bingung kenapa kakaknya itu menolak saat ditawari untuk menjadi seorang aktor. Suara kakaknya pun cukup bagus, setidaknya darah dari ibu mereka turun ke mereka berdua, walaupun lebih condong ke NamJoo dan ia benar-benar tak menyadarinya.

NamJoo sendiri bingung sebenarnya untuk apa ia hidup? Pertanyaan itu sebenarnya sudah membuntutinya sejak lama, awalnya ia pikir ia akan menemukan jawabannya dalam perjalanan kehidupannya, namun hingga sekarang tak ada jawaban. Bahkan menurutnya tak ada sepotong bagian dari kisah sejarah hidupnya yang dapat berarti dan membuatnya menyadari bahwa ia pantas untuk hidup dan hidupnya itu berarti.

“Aww.” Sebuah batu kecil mengenai kepala NamJoo dengan begitu sempurna dan terjatuh kembali di tanah berumput dengan landasan terbaik yang membuat NamJoo meringis pelan, antara kesakitan dan kaget.

NamJoo memalingkan kepalanya, mencoba memperbesar jangkauan matanya untuk mencari tahu siapakah sosok yang melemparkan batu ini kepadanya. Kan mustahil batu itu terbang sendiri.

Terlihat sosok namja yang tubuhnya dipastikan lebih tinggi dibanding NamJoo dan dengan rambut hitam yang tampak sedikit acak-acakkan, namun malah membuat parasnya semakin berkharisma. Namja tersebut berjalan santai ke arah NamJoo dan kemudian duduk di sebelah NamJoo, tanpa mengeluarkan sedikitpun suara dari mulutnya.

Mereka berdua sama-sama diam, tak ada yang berbicara, tak ada yang memulai pembicaraan, apalagi mencoba menyapa satu-sama lain. Mereka berdua seperti orang yang sama sekali tak kenal atau saling membenci sehingga malas untuk berbicara satu sama lain. NamJoo dan namja yang namanya adalah Minhyuk itu sebenarnya saling mengenal, setidaknya mengenal walaupun tak begitu akrab. Mereka berdua berkuliah di universitas yang sama, rasanya mustahil untuk NamJoo tak mengenal Minhyuk karena namja tersebut adalah namja paling populer di universitasnya itu. Dengan paras yang dapat dikatakan tampan dan berkharisma serta prestasi yang mewarnainya dalam bidang akademik dan non-akademik pasti sukses membuat ia dikenal seantero kampus mereka, bahkan diluar universitas mereka. Apalagi ia berasal dari keluarga yang baik-baik dengan tambahan kakaknya adalah seorang guru musik dan kedua orangtuanya adalah sosok yang disiplin serta mengasyikan, menambahkan nilai plus untuknya. Perlu diketahui ayahnya adalah seorang dosen dan ibunya dulunya seorang penyanyi dan kini masih bekerja sebagai guru vokal.

“Kenapa kau disini?”

Suara NamJoo memecahkan keheningan diantara mereka. Yeoja itu benar-benar muak dengan kecanggungan disana, bahkan untuk melangkah pergi meninggalkan taman itu saja rasanya begitu canggung dan aneh. Atmosfer yang benar-benar dibenci oleh NamJoo.

“Kenapa kau juga disini?” Minhyuk balas bertanya kepada NamJoo yang sukses membuat yeoja itu melayangkan ekspresi sebal. Kenapa pertanyaannya harus dibalas dengan pertanyaan yang sama lagi?

“Aku bertanya duluan, kenapa kau malah balas bertanya?” NamJoo mengutarakan kekesalannya. Cukup. Namja yang duduk dengan santai disebelahnya sukses membuat mood-nya semakin buruk. Setelah duduk disebelahnya dan membuat suasana canggung kini namja itu benar-benar membuatnya kesal.

“Apa kau tidak takut malam-malam sendiri disini? Ini tempat yang sepi loh.”

“Jadi?”

Oh ayolah, NamJoo benar-benar kelihatan begitu bodoh disaat seperti ini.

“Kau tidak takut terjadi apa-apa denganmu?” Didalam hatinya sebenarnya ia sibuk melayangkan runtutan kalimat ke iba-annya terhadap yeoja disampingnya yang begitu polos hingga terlihat kelewat bodoh.

“Apa pedulimu?” NamJoo menjawabnya dengan begitu cuek hingga membuat Minhyuk lagi-lagi harus mengelus dada, mencoba sabar.

“Kenapa kau berubah?” Pertanyan yang cukup mengejutkan yang dilontarkan Minhyuk mampu membuat ekspresi NamJoo berubah dengan drastis. Dari ekspresi dingin hingga ekspresi yang sulit ditebak dan tatapan matanya kosong.

Minhyuk menatap NamJoo.

Ia khawatir dengan yeoja itu, benar-benar khawatir.

Itu suatu hal yang sudah disembunyikannya sejak kurang-lebih 2 tahun yang lalu.

 

Bahwa ia khawatir dengan NamJoo.

 

“Kau benar-benar berubah. Banyak berubah.”

 

NamJoo tetap diam, tak bersuara. Minhyuk sendiri menatap NamJoo dengan sedikit khawatir. Sebenarnya cukup aneh ketika mereka berbicara berdua seperti ini. Namun Minhyuk benar-benar merindukan saat-saat seperti ini, seperti mengingatkannya pada memori lama yang seperti hilang dihembuskan oleh waktu dan masa.

 

“Kau tidak seperti dulu. Bukankah dulu kau sangat bersemangat?”

“Bukankah semua orang pasti berubah?” NamJoo menjawab dengan dingin, “Lagipula dari dulu hidupku memang selalu begini-begini saja.”

“Beda. Kau berubah menjadi orang yang berbeda,” Ucap Minhyuk dengan nada datar, masih sama seperti tadi, “Kau menjadi sosok yang aku dan Bomi benci.”

 

“Kita akan selalu berteman hingga kita dewasa kan?” Tanya NamJoo yang kala itu masih berada di sekolah menengah pertama.

“Ne, bahkan hingga kita menjadi nenek-nenek, dan Minhyuk akan menjadi kakek. Hahahaha,” Sosok yeoja manis bernama Bomi menjawab ucapan NamJoo.

Minhyuk menatap kedua sahabatnya sambil tersenyum kecil. Cukup unik memang ia bisa bersahabat dengan kedua yeoja tersebut, walaupun beberapa orang bertanya-tanya tapi Minhyuk sendiri tidak terlalu perduli, yang penting dirinya merasa nyaman dengan kedua sahabatnya tersebut. Lagipula kedua sahabatnya tersebut bukanlah tipikal yeoja yang hobi berbelanja dan menghabiskan waktu di mall.

“Janji?” NamJoo menunjukkan jari kelingkingnya.

“Ya! Minhyukie, sini,” Panggil Bomi kepada Minhyuk yang sedang tidur-tiduran dibawah pohon dibelakang tempat mereka duduk – di lapangan berumput dibelakang sekolah, tempat mereka sering berkumpul – dengan skateboard berwarna hitam yang dipinggirnya berwarna merah yang menjadi alas kepalanya.

Minhyuk berjalan ke arah kedua sahabatnya yang duduk di batu-batu yang berukuran sedang yang menjadi tempat duduk mereka kemudian ia menunjukkan jari kelingkingnya.

Jari kelingkin mereka bertiga berpaut, saling menyambung dan kemudian dengan kompak mereka berseru, “Janji!”

 

NamJoo terdiam, kilatan masa lalunya itu masih berputar dengan setia di pikirannya bagaikan sebuah film. Ia benar-benar merindukan masa-masa itu, dimana ia dan Minhyuk serta Bomi menghabiskan waktu bersama, tanpa beban, tanpa kesedihan.

“Hidupmu tidak datar.”

Minhyuk membuka suara lagi.

Ucapan Minhyuk benar-benar membuat NamJoo terbengong. Apakah setelah bertahun mereka sedikit renggang tiba-tiba Minhyuk memiliki ilmu yang dapat membaca pikiran orang lain?

“Hanya kau yang menutup matamu akan masa lalumu.”

“Kau yang membuat hidupmu menjadi datar. Sebuah kesempatan dan kebahagiaan itu kau sia-siakan hanya karena kau selalu menganggap hidupmu tak berarti.”

 

“NamJoo kau kelihatannya berubah,” Ucap Bomi dengan pandangan kosong ke arah NamJoo. Kini mereka sedang duduk disalah salah satu cafe di tengah kota Seoul.

“Aku? Kurasa aku biasa saja,” Jawab NamJoo sambil menatap Bomi heran, “Iya kan Hyuk?”

“Kurasa sih kau sedikit berubah,” Minhyuk menjawab dengan ragu yang membuat NamJoo menyerngit heran.

“Kalian ini aneh sekali, memang apa yang berubah?”

“Entahlah, kurasa kau sekarang…” Bomi terdiam sebentar kemudian melanjutkan dengan sedikit ragu, “Jadi semakin cuek.”

“Hah?” NamJoo kini mulai bingung, “Apa karena sekarang kemarin aku tidak bisa ikut ketika kau mengajak aku dan Minhyuk pergi ke kebun binatang? Kalian mengertilah, aku sedang persiapan untuk test masuk ke Universitas Seoul.”

“Bukan, bukan itu. Kau benar-benar berbeda, kau bahkan terlihat bosan berteman dengan aku dan Minhyuk.”

Minhyuk sendiri lebih memilih menutup mulut. Apapun yang ingin diutarakannya sudah diutarakan dengan jelas oleh Bomi.

“Aku dan Minhyuk juga ingin mencari universitas yang bagus, namun rasanya kami tak sesibukmu.”

NamJoo terdiam, ia sebenarnya bingung kenapa temannya itu malah mengatakan ia berubah. Menurutnya ia sama saja.

“Baiklah, apa kau akan datang di acara perpisahan besok?” Tanya Bomi setelah meminum jus mangga pesanannya.

“Kurasa aku tidak bisa. Lebih baik aku belajar di rumah, lagipula kan tidak ada yang pergi,” Jawab NamJoo dengan santai, “Oh iya Hyuk, kau jadi masuk ke Universitas Sogang?”

Bomi dan Minhyuk saling bertatap-tatapan. Minhyuk tahu sebenarnya Bomi cukup sedih dan murka.

“Mungkin, aku sudah ikut tesnya. Tinggal menunggu hasil.”

 

“Kau tahu, Bomi sebenarnya sangat sedih ketika tahu kau tidak datang di acara perpisahan sekolah.”

NamJoo masih terdiam.

 

Ia tahu. Ia sangat tahu.

 

“Sebenarnya ia ingin memberitahumu ketika acara perpisahan, tapi kau tidak datang.” Minhyuk tetap berbicara dengan datar, walaupun ada nada kecewa dalam suaranya.

“Aku dan Bomi sebenarnya kecewa, kenapa kau tidak datang? Apakah test masuk Universitas itu lebih penting dibandingkan kami? Itu yang selalu aku dan Bomi pikirkan,” Lanjut Minhyuk kemudian menggigit bibirnya pelan, mencoba menahan segala emosinya.

“Apa kau tahu, Bomi menangis dibandara ketika ia menyadari bahwa kau tidak ikut mengantarnya. Sahabat yang selama ini mengisi hari-harinya tak ada ketika ia harus pergi.”

Mata NamJoo terlihat sedikit berkaca-kaca. Hatinya sesak, menyadari masa lalunya yang sebenarnya indah dan ia menghancurkannya sendiri. Menyadari sahabatnya itu sudah pergi dari sisinya.

“Ia tak pernah meminta lebih darimu. Hanya waktu. Sedikit saja waktu sebelum dia pergi.”

“Bagaimana aku tahu dia akan pergi jika ia sendiri tak memberi tahu kepadaku?” Pekik NamJoo pelan dengan suara bergetar.

“Ia sudah berkali-kali ingin memberitahukan kepadamu.”

 

NamJoo terdiam, tak ada lagi pembelaan. Semuanya seratus persen kesalahannya.

 

“Dan dikesempatan terakhir ia ingin memberitahukan kepadamu di acara perpisahan, tapi kau tidak datang.” Minhyuk kemudian menatap NamJoo, “Kau tahu kan kotak bekal yang aku berikan kepadamu di saat sebelum kau test untuk masuk ke Universitas Seoul itu? Itu buatannya, ia berikan ketika ia akan berangkat. Ia hanya tak ingin kau tak serius saat tes sehingga ia mencegahku menelfonmu di malam setelah acara perpisahan, dan kau tes bersamaan disaat ia berangkat.”

 

NamJoo teringat kembali akan masa-masa bahagianya. Ia terlalu bersemangat untuk mendapatkan beasiswa ke Universitas Seoul sehingga melupakan sosok sahabat yang selalu ada disamping. Dan setelah ia menyadari Bomi, sahabatnya itu pindah ke Ingrris, hidupnya hancur. Seperti separuh dari nyawanya menghilang.

 

Bahkan ketika ia benar-benar fokus pada test itu Bomi dan Minhyuk masih mencoba sabar dan selalu menyemangatinya. Bomi bahkan sempat mengirimkan pesan yang menyemangati NamJoo sebelum ia berangkat ke Inggris. NamJoo tahu Bomi pasti sedih dan kecewa karena dirinya – begitu pula dengan Minhyuk.

 

NamJoo berjalan dengan santai menuju pintu gerbang Universitas Seoul. Sebelum masuk ia memejamkan mata dulu dan menarik nafas pelan kemudian membuangnya. Tepat setelah membuka mata ia melihat Minhyuk berdiri disana. Wajah Minhyuk tampak tidak dalam kondisi baik, wajahnya menunjukkan raut kecewa dan sedih.

“Hei, ternyata kau datang juga. Mana Bomi?” Tanya NamJoo dengan ceria sambil menghampiri Minhyuk.

“Pergi.” Jawab Minhyuk dengan singkat dan dingin.

“Pergi? Pergi kemana?” NamJoo sedikit bingung dan perasaannya sedikit tidak enak, namun ia masih berpura-pura ceria.

“Ke Inggris, dia dan keluarganya pindah kesana.”

NamJoo terdiam. Ia benar-benar shock.

“Kenapa? Kau khawatir? Apa kau masih punya waktu untuk mengkhawatirkan Bomi?” Tanya Minhyuk sinis.

“Ini bekal untukmu darinya, kuharap kau dapat lulus,” Minhyuk memberikan sebuah paper bag kepada NamJoo, “Dan kau harus tahu. Aku dan Bomi kecewa denganmu.”

 

NamJoo memejamkan matanya ketika mengingat saat-saat tersebut, rasanya ia ingin menampar dirinya dimasa lalu dan mengatakan bahwa ia harus sadar. Nyatanya pada akhirnya ia tidak lulus dan hidupnya benar-benar hancur. Ia kemudian pindah ke Universitas Sogang, tempat dimana Minhyuk juga berkuliah.

Hal tersebut bukannya membuat mereka tetap akrab, namun malah benar-benar membuat hidupnya berubah. Semua yang disekelilingnya tampak asing dan hampa. Tak ada lagi candaan sahabat-sahabatnya yang menemaninya, tak ada lagi suara imut Bomi yang meneriaki namanya serta tingkah anehnya yang membuatnya dan Minhyuk tertawa, tak ada juga nasehat bijak Minhyuk yang selalu terdengar ditelinganya maupun selera humor namja itu yang menurutnya dan Bomi benar-benar buruk.

Ia tahu bahwa ia salah, ia nyatanya terlalu terpuruk atas semua yang menimpanya secara beruntun. Setelah sahabatnya meninggalkan dia, lalu ia harus gagal masuk ke universitas impiannya.

“Bukan dirimu yang salah,” Minhyuk mulai membuka suara lagi, “Pola pikirmu yang salah.”

 

NamJoo terdiam.

 

Pola pikirnya memang salah. Benar-benar salah.

 

“Kau pikir aku tidak sedih ketika Bomi pergi ke Inggris?” Pekik Minhyuk dan melanjutkan dengan pelan dan lirih, “Dan saat kau mulai berubah.”

Huh, lagi-lagi kata-kata Minhyuk membuatnya semakin merasa bersalah.

“Aku pikir kita harus berfikir bahwa ketika Bomi pergi ke Inggris itu semua hanyalah sebuah pembelajaran bahwa kita harus lebih menghargai setiap orang yang kini masih ada di sekeliling kita.”

NamJoo tersenyum kecil, ini yang ia rindukan dari seorang Minhyuk, nasehat bijaknya yang selalu membuat dirinya merasa nyaman dan mendapatkan pelajaran baru dalam potongan hidupnya.

“Boleh aku jujur?”

NamJoo kini menanyakan sebuah pertanyaan yang paling tolol yang pernah dilontarkannya dalam sejarah kehidupannya.

“Kau memang tak bisa berbohong dihadapanku Kim NamJoo.”

NamJoo terkikik pelan. Bisa dikatakan ia juga cukup tersentuh karena Minhyuk masih mengingat berbagai hal tentangnya.

 

“Aku merindukan Bomi.”

 

Kalimat singkat yang hanya terdiri dari 3 kata itu sukses membuat Minhyuk terdiam.

Kemudian Minhyuk tersenyum kecil, “Aku juga.”

“Aku bahkan tak pernah berkomunikasi lagi dengannya. Setelah pindah ke Inggris nomornya ganti, bahkan nomor eomma dan appa-nya pun tak bisa dihubungi,” Ucap NamJoo sambil tersenyum, setidaknya ia berusaha tak ada tangisan diantara mereka.

“Dan aku tahu kau cukup stress pada saat itu.” Minhyuk menolehkan kepalanya, menatap ke NamJoo dan dibalas dengan anggukkan pelan NamJoo.

“Hem, lebih tepatnya hidupku mulai berubah pada saat itu.”

“Kalau begitu kenapa tidak kau ubah lagi hidupmu?” Tanya Minhyuk sambil memasukkan tangannya ke jaket hitamnya tersebut.

Eo?” NamJoo menyerngit, bingung.

“Menjadi lebih baik dan berwarna.”

“Kurasa aku tidak mampu lagi,” NamJoo menjawab dengan pesimis, “Hidupku menjadi lebih baik dan berwarna karena kau dan Bomi.”

“Kenapa kau menggantungkan hidupmu kepadaku dan Bomi?” Minhyuk memasang wajah pura-pura marah, “Itu hidupmu, kau memang membutuhkan orang lain dalam hidupmu, tapi jangan sampai kau terlalu jatuh jika orang tersebut tidak ada disampingmu. Setidaknya kau masih punya banyak orang yang mencintaimu, jangan membuat mereka kecewa . Hidupmu itu berharga.”

Ne konsyunim,” Jawab NamJoo dengan begitu sopan yang disambung dengan gelak tawa dari keduanya.

“Lagi pula aku dan Bomi masih ada di sisimu.” Ucap Minhyuk yang membuat NamJoo sedikit bingung, “Setidaknya di dalam hati dan pikiranmu.”

“Boleh aku bertanya? Ini pertanyaan terakhir dariku di malam ini,” Minhyuk melanjutkan.

“Silahkan, aku tak akan melarangmu.”

“Apakah kita masih bersahabat?” Tanya Minhyuk, “Ehm, maksudku aku, kau, dan Bomi.”

 

 

NamJoo kemudian tersenyum.

 

“Masih, sampai selamanya.”

 

__________

 

Keheningan malam ini bukanlah menjadi suatu kesedihan. Bukan juga kebahagiaan yang berkobar. Namun sebuah kedamaian dan kesenangan yang begitu sederhana yang dirasakan sosok yeoja yang tengah terlelap di dalam sebuah kamar tidur bernuansa biru muda. Kim NamJoo yang merasakan kedamaian tersebut.

Sebuah potongan kecil dalam perjalanan hidupnya memang boleh dianggapnya begitu datar dan membosankan. Namun setelah ia mencoba membuka mata dan melihat berbagai fakta yang sebenarnya ia cukup yakin bahwa hidupnya lebih menarik dan tak sedatar pandanannya.

Kini kesalahan-kesalahan yang dibuatnya dimasa lalu bukan dijadikannya beban maupun penyesalan berkepanjangan, namun ia jadikan sebuah pelajaran.

Untuk kisah persahabatannya pun menurutnya betul-betul menarik. Setidaknya ia harus sangat bersyukur memiliki sahabat yang begitu mengertinya. Untuk kesempatan lain ia ingin setidaknya bertemu lagi dengan Bomi, sahabat terbaiknya itu lagi dan mereka bertiga – dengan Minhyuk akan membuat sebuah kenangan tak terlupakan lagi. Jika ia bisa. Dan NamJoo cukup yakin pasti hal itu akan dapat dilakukan.

Untuk hari ini ia mendapatkan satu pelajaran menarik lagi.

Bahwa hidupnya itu berharga.

 

Setidaknya walaupun kesalahan yang kubuat itu merubah hidupku.

Aku masih memiliki orang-orang yang mencintaiku.

Dan membuatku menyadari bahwa

Hidupku itu berharga.

-Kim NamJoo

 

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s